Peninggalan Kerajaan Kutai: Sejarah, Raja, Peninggalan

3 min read

peninggalan kerajaan kutai

Dalam pelajaran Sejarah, tentu terdapat materi mengenai peninggalan Kerajaan Kutai. Indonesia memiliki banyak sejarah yang harus selalu kita ingat. Seperti yang dikutip dari perkataan Soekarno “Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah” atau biasa disebut dengan jasmerah.

Disini kita akan menengok kembali secara jauh sejarah bangsa Indonesia, dimana awal pergerakan dimulai pada saat masa Kerajaan Kutai. Tamilchill akan mengulas sejarah singkat dan peninggalan Kerajaan Kutai yang akan dijelaskan seperti dibawah ini.

Sejarah Kerajaan Kutai

kerajaan kutai

Kerajaan Kutai merupakan kerajaan bercorak Hindu yang berdiri pada abad ke 5 M atau ± 400 M dan berada di Muara Kaman, Kalimantan Timur, tepatnya di hulu Sungai Mahakam. Nama Kutai sendiri ditentukan oleh pada ahli sejarah pada saat ditemukannya prasasti berbentuk Yupa yang kebetulan berada di daerah Kutai. Wilayah kekuasaan Kerajaan Kutai sendiri terbilang cukup luas, yaitu hampir menguasai seluruh wilayah Kalimantan Timur. Bahkan, pada saat masa kejayaannya, kerajaan ini juga hampir menguasai sebagian wilayah Kalimantan.

a. Sumber Sejarah

Sumber mengatakan bahwa Kerajaan Kutai bercorak Hindu dikarenakan beberapa penemuan peninggalan Kerajaan Kutai berupa prasasti (tulisan). Prasasti tersebut ada pada tujuh tiang batu atau dikenal dengan Yupa. Yupa adalah tugu batu yang digunakan sebagai tiang untuk menambat hewan yang akan dikorbankan. Pada salah satu Yupa, diketahui bahwa Mulawarman menjadi sosok raja yang memerintah Kerajaan Kutai pada waktu itu. Namanya dituliskan dalam Yupa berkat kedermawanannya yang menyumbangkan 20.000 ekor sapi pada Kaum Brahmana. Dan kitab yang mereka gunakan bernama Bharatayuda/Sutasoma.

b. Kehidupan Politik

Pengaruh Hindu (India) yang muncul dan berkembang di Kalimantan Timur membuat sistem kepemerintahan berubah. Perubahan tersebut yaitu dari pemerintahan suku dengan kepala suku yang memerintah menjadi kerajaan dengan seorang raja sebagai kepala pemerintahannya. Adapun raja-raja yang pernah berkuasa pada masa Kerajaan Kutai adalah:

  • Raja Kudungga

Raja Kudungga merupakan raja pertama dari Kerajaan Kutai. Jika diamati dari namanya, para ahli mengungkapkan bahwa pada masa pemerintahannya pengaruh Hindu baru masuk ke wilayah Kerajaan Kutai. Raja kudungga awalnya merupakan seorang kepala suku, namun saat masuknya pengaruh Hindu, Kudungga merubah struktur pemerintahan menjadi kerajaan. Kudungga akhirnya mengangkat dirinya sebagai raja, sehingga penerus kerajaan dilakukan secara turun temurun.

  • Raja Aswawarman

Raja Aswawarman merupakan pengganti dari Raja Kudungga. Diceritakan pada prasasti Yupa bahwa dirinya merupakan raja yang cakap dan kuat. Pada saat dirinya memerintah, diperluas lah wilayah kekuasaan Kerajaan Kutai. Dibuktikan dengan adanya upacara Asmawedha pada masanya persis seperti upacara yang dilakukan di India pada masa pemerintahan Raja Samudragupta ketika hendak memperluas wilayah kekuaasannya.

Pada upacara tersebut, diadakan pelepasan kuda dengan maksud untuk menentukan batas kekuasaan Kerajaan Kutai dengan cara menentukan tapak kaki kuda yang nampak pada tanah sampai tapak kuda yang terakhir. Pelepasan kuda tersebut diikuti oleh sejumlah prajurit yang menandakan batas Kerajaan Kutai.

  • Raja Mulawarman

Raja Mulawarman sendiri merupakan anak dari raja kedua, yaitu Raja Aswawarman. Raja Mulawarman merupakan raja terbesar dari Kerajaan Kutai. Pada saat Raja Mulawarman memerintah, Kerajaan Kutai mengalami masa kejayaannya. Para rakyatnya hidup tentram dan sejahtera sehingga Raja Mulawarman mengadakan upacara kurban emas dengan jumlah yang banyak.

Setelah Raja Mulawarman wafat, maka pemerintahannya akan digantikan oleh penerusnya. Adapun raja-raja setelah Mulawarman yaitu:

  1. Raja Marawijaya Warman
  2. Raja Gajayana Warman
  3. Raja Tungga Warman
  4. Raja Jayanaga Warman
  5. Raja Nalasinga Warman
  6. Raja Nala Parana Tungga Warman
  7. Raja Gadingga Warman Dewa
  8. Raja Indra Warman Dewa
  9. Raja Sangga Warman Dewa
  10. Raja Candrawarman
  11. Raja Sri Langka Dewa Warman
  12. RajaGuna Parana Dewa Warman
  13. Raja Wijaya Warman
  14. Raja Sri Aji Dewa Warman
  15. Raja Mulia Putera Warman
  16. Raja Nala Pandita Warman
  17. Raja Indra Paruta Dewa Warman
  18. Raja Dharma Setia Warman

C. Runtuhnya Kerajaan Kutai

Runtuhnya Kerajaan Kutai terjadi pada masa pemerintahan Maharaja Dharma Setia Warman. Raja tersebut tewas ditangan Raja Kutai Kartanegara ke-13, yang bernama Aji Pangeran Anum Panji Mendapa. Sesudah tragedi itu, Kerajaan Kutai menjadi Kerajaan Islam yang bernama Kesultanan Kutai Kartanegara.

Peninggalan Kerajaan Kutai

Setelah mengetahui sejarah singkat mengenai Kerajaan Kutai, berikut kami akan tuliskan dan jelaskan peninggalan Kerajaan Kutai beserta gambarnya. Simak penjelasan dibawah ini:

1. Prasasti Yupa

7 prasasti peninggalan kerajaan kutai

Prasasti Yupa merupakan salah satu peninggalan sejarah kerajaan kutai yang paling tua. Benda bersejarah tersebut merupakan bukti terkuat adanya kerajaan Hindu yang tumbuh di atas tanah Kalimantan. Sedikitnya, tersedia 7 prasasti yupa yang sampai kini masih terjaga.

2. Kalung Ciwa

kitab peninggalan kerajaan kutai

Kalung Ciwa menjadi sejarah peninggalan yang ditemukan pada masa pemerintahan Sultan Aji Muhammad Sulaiman. Penemuan terjadi pada tahun 1890 oleh seorang masyarakat di sekitar danau Lipan, Muara Kaman. Sampai saat ini, kalung Ciwa masih digunakan sebagai perhiasan kerajaan dan dipakai oleh sultan pada saat terjadinya pesta penobatan sultan baru.

3. Kalung Uncal

kitab kerajaan kutai

Kalung Uncal adalah kalung emas seberat 170 gram yang dihiasi liontin dengan relief cerita ramayana. Kalung ini menjadi atribut Kerajaan Kutai dan pernah digunakan oleh Sultan Kutai Kartanegara pasca takluknya Kerajaan Kutai. Adapun berdasarkan penelitian para ahli, kalung uncal sendiri diperkirakan berasal dari India (Unchele). Di dunia ini, hanya tersedia 2 kalung Uncal, satu berada di India dan satunya lagi terdapat di Museum Mulawarman, Kota Tenggarong.

4. Ketopong Sultan

gambar kerajaan kutai

 

Ketopong adalah mahkota Sultan Kerajaan Kutai yang terbuat dari emas. Beratnya mencapai 1,98 kg dan sekarang ini disimpan di Museum Nasional di Jakarta. Ketopong sultan kutai ditemukan pada tahun 1890 di daerah Muara Kaman. Di Museum Mulawarman sendiri, ketopong yang dipajang hanyalah ketopong tiruan.

5. Pedang Sultan Kutai

keruntuhan kerajaan kutai

Pedang Sultan Kutai terbuat dari emas padat. Pada gagang pedang terukir gambar seekor harimau yang tengah siap menerkam, sedangkan pada ujung sarung pedang dihiasi oleh seekor buaya. Sekarang ini, pedang Sultan Kutai dapat Anda lihat di Museum Nasional, Jakarta.

6. Kura-Kura Emas

gambar arca bulus

Benda ini sekarang berada di Museum Mulawarman. Ukurannya sebesar setengah kepalan tangan. Berdasarkan label yang tertera di dalam etalasenya, kura-kura emas ini ditemukan di daerah Long Lalang, yaitu daerah yang terletak di hulu Sungai Mahakam.

7. Kelambu Kuning

kelambu kuning

Banyak benda peninggalan Kerajaan Kutai yang memiliki kekuatan magic yang ditaruh di dalam kelambu kuning untuk menghindari terjadinya bala yang dapat ditimbulkannya.

8. Tali Juwita

tali juwita

Tali Juwita adalah sebuah tali yang terbuat dari benang yang berjumlah 21 helai. Biasanya, tali ini digunakan saat berlangsungnya upacara adat Bepelas. Tali Juwita memberi simbol tujuh muara dan juga tiga anak sungai. Sungai-sungai tersebut seperti Sungai Belayan, Sungai Kedang Pahu, dan Sungai Kelinjau.

9. Keris Bukit Kang

keris bukit kang

Keris bukit Kang digunakan oleh Permaisuri Aji Putri Karang Melenu atau permaisuri dari Sultan Kutai Kartanegara yang pertama. Keris ini terkenang dengan nama Keris Bukit Kang.

10. Tempat Duduk Raja

tempat duduk raja

Tempat duduk raja menjadi benda peninggalan sejarah dari Kerajaan Kutai yang hingga saat ini masih terjaga di dalam Museum Mulawarman.

Demikianlah penjelasan sejarah singkat beserta peninggalan Kerajaan Kutai. Semoga bermanfaat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *