Fungsi Pajak: Pengertian, Ciri, Jenis

3 min read

Fungsi pajak

Fungsi pajak yaitu sebagai alat dalam membiayai pengeluaran negara. Rakyat yang membayar pajak tidak secara langsung mendapatkan manfaatnya, karena pajak digunakan untuk kepentingan umum, bukan kepentingan pribadi. Pembayaran pajak bersifat memaksa terhadap orang yang sudah dikenakan wajib pajak.

Nah, untuk lebih lengkapnya, berikut Tamilchill akan mengupas lebih mendalam mengenai pajak.

Pengertian Pajak

Secara umum, pajak adalah pungutan wajib yang dibayar rakyat untuk negara dan akan digunakan untuk kepentingan pemerintah dan masyarakat umum.

Sedangkan berdasarkan UU KUP NOMOR 28 TAHUN 2007, pasal 1, ayat 1, pengertian pajak adalah kontribusi wajib kepada negara yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan undang-undang, dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan untuk keperluan negara bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

Ciri-Ciri Pajak

5 fungsi pajak

1. Pajak merupakan kontribusi wajib warga negara

Setiap orang memiliki kewajiban untuk membayar pajak. Dengan catatan, hanya berlaku untuk warga negara yang sudah memenuhi syarat subjektif dan syarat objektif. Syarat tersebut yaitu warga negara yang memiliki Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP) lebih dari Rp2.050.000 per bulan. Jadi, apabila Anda seorang karyawan/pegawai, baik karyawan swasta maupun pegawai pemerintah, dengan total penghasilan lebih dari 2 juta rupiah, maka wajib membayar pajak. Dan jika Anda seorang wirausaha, maka setiap penghasilan akan dikenakan pajak sebesar 1% dari total penghasilan kotor/bruto (berdasarkan PP 46 tahun 2013).

2. Pajak bersifat memaksa untuk setiap warga negara

Jika seseorang telah memenuhi syarat subjektif dan syarat objektif, maka diwajibkan untuk membayar pajak. Dalam undang-undang pajak telah disinggung, apabila seseorang dengan sengaja tidak membayar pajak yang seharusnya dibayarkan, maka terdapat ancaman sanksi administratif maupun hukuman secara pidana.

3. Warga negara tidak mendapat imbalan langsung

Pajak dan retribusi bukanlah hal yang sama. Pajak merupakan salah satu sarana pemerataan pendapatan warga negara. Jadi ketika membayar pajak dalam jumlah tertentu, Anda tidak langsung menerima manfaat dari pajak yang dibayar. Nantinya, pajak tersebut akan dialihkan untuk perbaikan jalan raya di daerah tempat Anda tinggal, beasiswa pendidikan, fasilitas kesehatan gratis bagi keluarga, dan lain sebagainya.

4. Berdasarkan undang-undang

Pajak diatur dalam undang-undang negara. Terdapat beberapa undang-undang yang mengatur tentang mekanisme perhitungan, pembayaran, dan pelaporan pajak.

Jenis-Jenis Pajak

fungsi pajak bagi negara

Menurut Lembaga Pemungut Pajak, jenis pajak ditinjau dari beberapa segi. Yaitu berdasarkan sistem pemungutan, berdasarkan instansi pemungut, dan berdasarkan sifatnya. Berikut penjelasannya:

1. Pajak berdasarkan sistem pemungutan

Berdasarkan cara pemungutannya, pajak dibagi menjadi dua, yaitu pajak langsung dan tidak langsung. Adapun penjelasannya seperti dibawah ini:

  • Pajak Langsung (Direct Tax)

Pajak langsung harus ditanggung sendiri oleh wajib pajak dan tidak dapat dialihkan ke pihak lain. Pajak dibayarkan secara berkala berdasarkan surat ketetapan pajak dan memiliki nominal jumlah yang perlu dibayar. Contoh dari pajak langsung adalah Pajak Penghasilan (PPh), Pajak Bumi dan Bangunan (PBB). Kesimpulannya, pajak dari penghasilan tidak boleh dilimpahkan kepada orang lain.

  • Pajak Tidak Langsung (Indirect Tax)

Pajak tidak langsung pembayarannya dapat dialihkan ke pihak lain. Pajak ini ditagih berdasarkan aktivitas atau peristiwa tertentu, sehingga tidak dibayarkan secara berkala. Pemerintah memungut pajak ini apabila terjadi aktivitas oleh wajib pajak. Contoh dari pajak tidak langsung adalah pajak penjualan atas barang mewah, Pajak Pertambahan Nilai (PPN), bea materai, dan cukai. Jadi, apabila Anda menjual sebuah barang mewah, maka pajak penjualannya dapat dilimpahkan kepada sang pembeli.

2. Pajak berdasarkan instansi pemungut

Berdasarkan instansi pemungutnya, pajak dikategorikan menjadi dua, yaitu pajak negara dan pajak daerah. Berikut penjelasannya:

  • Pajak Negara (Pusat)

Pajak ini dipungut oleh pemerintah pusat. Pemungutan pajak dilakukan melalui instansi seperti Dirjen Pajak, Dirjen Bea dan Cukai, maupun kantor inspeksi pajak yang tersebar di seluruh Indonesia. Contoh pajak negara adalah pajak penghasilan, pajak pertambahan nilai, pajak migas, pajak perolehan hak atas tanah dan bangunan, bea materai, bea masuk, cukai, pajak bumi dan bangunan.

  • Pajak Daerah (Lokal)

Pajak ini dipungut oleh pemerintah daerah. Pajak ini terbatas, hanya untuk rakyat di daerah itu sendiri dan dilakukan oleh Pemda Tingkat II maupun Pemda Tingkat I. Contoh pajak daerah adalah pajak hotel, pajak hiburan, pajak reklame, pajak restoran, pajak tontonan, pajak kendaraan bermotor, pajak radio, pajak bahan bakar, dan masih banyak lainnya.

3. Pajak berdasarkan sifat

Sedangkan berdasarkan sifatnya, pajak digolongkan menjadi dua jenis, yaitu pajak subjektif dan objektif. Selengkapnya seperti berikut:

  • Pajak Subjektif  

Pajak yang pengambilannya berdasarkan dari kondisi wajib pajak. Jadi, besar kecilnya jumlah pajak tergantung dengan kemampuan wajib pajak. Contoh pajak subjektif adalah pajak penghasilan, pajak kekayaan.

  • Pajak Objektif

Pajak yang pengambilannya berdasarkan dari kondisi objek tanpa memperhatikan kondisi wajib pajak. Pajak ini lebih terkait terhadap objek dan dikalkulasikan berdasarkan objek tersebut. Contoh pajak objektif adalah pajak kendaraan bermotor, pajak impor, bea materai, bea masuk, pajak pertambahan nilai.

Sebelum mengetahui lebih lanjut, baca juga mengenai prinsip ekonomi.

Fungsi Pajak Bagi Negara

fungsi pajak daerah

Pajak merupakan sumber pendapatan negara yang memegang peranan penting dalam kehidupan bernegara, khususnya dalam hal pembangunan. Adapun 5 fungsi pajak adalah sebagai berikut:

1. Fungsi Anggaran (Fungsi Budgeter)

Pajak sebagai sumber penerimaan negara digunakan untuk membiayai pengeluaran pemerintah yang berkaitan dengan pelayanan publik. Sehingga fungsi pajak merupakan sumber pendapatan negara yang memiliki tujuan menyeimbangkan pengeluaran negara dengan pendapatan negara.

2. Fungsi Mengatur (Fungsi Regulasi)

Pajak sebagai alat untuk mencapai tujuan-tujuan yang telah ditetapkan pemerintah. Fungsi pajak berguna untuk mengatur perekonomian dalam rangka mencapai tingkat pertumbuhan ekonomi yang cepat dan tepat sasaran. Adapun fungsi mengatur dalam pajak dan contohnya sebagai berikut:

  • Pajak dapat digunakan untuk menghambat laju inflasi.
  • Pajak mampu memberikan proteksi atau perlindungan terhadap barang produksi dari dalam negeri, contohnya adalah Pajak Pertambahan Nilai (PPN).
  • Pajak dapat dimanfaatkan sebagai alat untuk mendorong kegiatan ekspor, misalnya pajak ekspor barang.
  • Pajak mampu mengatur dan menarik investasi modal yang membantu perekonomian agar semakin produktif.

3. Fungsi Pemerataan (Pajak Distribusi)

Pajak dimanfaatkan untuk membiayai pelaksanaan pembangunan ekonomi dalam rangka meningkatkan taraf hidup masyarakat. Fungsi pajak disebut juga sebagai pemerataan pendapatan.

4. Fungsi Stabilisasi

Pajak sebagai instrumen untuk melindungi stabilitas ekonomi suatu negara. Pajak dapat digunakan untuk mengatasi ketidakstabilan ekonomi melalui penentuan tarif pajak.

5. Fungsi Alokasi

Pajak juga memiliki fungsi untuk membiayai dan menyediakan barang dan atau jasa yang dibutuhkan masyarakat.

Demikianlah pembahan mengenai pajak. Adapun fungsi pajak seperti yang telah dijelaskan diatas, selain itu maka bukan fungsi pajak. Semoga dapat menambah wawasan Anda.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *